Penanggulangan Akseptor KB Bermasalah

Setiap metode kontrasepsi yang ditawarkan memiliki keunggulan dan kekurangan. Respon di tubuh akseptor berbeda-beda sesuai dengan keadaan kesehatannya secara menyeluruh. Kekurangan dari metode kontrasepsi yang ditawarkan diantaranya bahwa metode kontrasepsi memiliki angka kegagalan dan memiliki efek samping penggunaan, serta komplikasi yang dapat timbul akibat dari interaksi metode KB dengan keadaan akseptor (penyakit, obat yang dikonsumsi, gaya hidup). Namun dalam hal ini, setiap efek samping dan komplikasi yang ditimbulkan dari penggunaan metode kontrasepsi, dapat diatasi/ditanggulangi. Bidan sebagai salah satu pemberi pelayanan KB di masyarakat, juga bertugas menangani efek samping/komplikasi yang dialami akseptor atas penggunaan metode kontrasepsi, sesuai dengan kewenangannya.

family_planning

A.    Penanganan efek samping metode KB sederhana

  1. Kondom
    1. Iritasi lokal pada penis: pastikan pada kondom tidak terdapat bahan tambahan, jika timbul reaksi pada setiap penggunaan, gunakan metode lain dan bantu klien memilih metode lain.
    2. Kondom rusak atau bocor sebelum pemakaian: buang dan pakai kondom yang baru atau gunakan spermisida.
    3. Kondom bocor saat berhubungan: pertimbangkan pemberian Morning After Pil.
    4. Mengurangi kenikmatan berhubungan seksual: gunakan kondom yang lebih tipis atau ganti metode kontrasepsi lain.
  2. Diafragma
    1. Infeksi saluran kemih: berikan antibiotik, sarankan mengosongkan kandung kemih pasca senggama atau gunakan metode kontrasepsi lain.
    2. Rasa nyeri pada tekanan terhadap kandung kemih/rektum: lakukan penilaian kesesuaian ukuran forniks dan diafragma, bila terlalu besar, coba ukuran yang lebih kecil. Lakukan follow up masalah yang telah ditangani.
    3. Timbul cairan vagina yang berbau: periksa adanya IMS (Infeksi Menular Seksual) atau benda asing dalam vagina. Sarankan lepas segera diafragma pasca senggama. Apabila kemungkinan ada IMS, lakukan pemrosesan alat sesuai dengan pencegahan infeksi.
    4. Luka dinding vagina akibat tekanan pegas diafragma: hentikan penggunaan diafragma untuk sementara dan gunakan metode lain. Bila sudah sembuh, periksa kesesuaian ukuran forniks dan diafragma.

B.    Penanganan efek samping metode KB modern

1) Pil

Terjadi amenorhoe

–     Pastikan hamil atau tidak, jika tidak hamil maka tidak diperlukan tindakan khusus, cukup lakukan konseling.

–     Bila amenorhoe berlanjut, atau hal tersebut membuat klien khawatir, maka lakukan rujukan ke dokter kandungan.

–     Bila hamil, hentikan pil, lanjutkan kehamilan dan yakinkan klien bahwa pil yang telah diminumnya tidak memberikan efek terhadap janin.

–     Bila diduga terjadi kehamilan ektopik, lakukan rujukan.

Perdarahan bercak/Spotting

–     Lakukan tes kehamilan atau pemeriksaan ginekologik.

–     Apabila tidak menimbulkan masalah kesehatan/tidak hamil, tidak perlu tindakan khusus.

–     Jelaskan kembali bahwa efek samping ini biasa terjadi pada penggunaan 3 bulan pertama dan akan berhenti.

–     Apabila klien tetap tidak menerima keadaan tersebut, bantu memilih metode kontrasepsi lain.

Mual, pusing/muntah

–     Tes kehamilan atau pemeriksaaan ginekologi, bila tidak hamil berikan konseling cara minum pil yang benar.

2) Suntik

Amenorrhoe

–     Jelaskan kembali efek samping KB suntik.

–     Pastikan kehamilan, jika tidak hamil maka tidak perlu diberi pengobatan khusus, jelaskan bahwa darah haid tidak berkumpul dalam rahim.

–     Bila klien tidak menerima kelainan haid tersebut, suntikan sebaiknya tidak dilanjutkan, bantu klien memilih jenis alat kontrasepsi yang lain.

–     Bila klien hamil, hentikan penyuntikan dan jelaskan bahwa hormon yang terdapat dalam suntik KB sedikit sekali pengaruhnya terhadap janin.

Perdarahan

–     Jelaskan bahwa perdarahan ringan/bercak (spotting) sering dijumpai, namun tidak berbahaya. Apabila tetap berlanjut lebih dari 3 bulan pemakaian, perlu dicari penyebab perdarahan tersebut. Sedangkan apabila tidak ditemukan penyebabnya, maka tanyakan pada klien apakah masih tetap ingin menggunakan metode kontrasepsi suntik, jika tidak bantu klien memilih metode kontrasepsi yang lain.

–     Bila ditemukan penyakit radang panggul atau penyakit akibat hubungan seksual, klien perlu diberi pengobatan yang sesuai, klien dapat terus melanjutkan penggunaan kontrasepsi suntik.

–     Bila perdarahan banyak/memanjang (lebih dari 8 hari) atau dua kali lebih banyak dari perdarahan yang biasanya dialami pada siklus haid normal, jelaskan bahwa hal tersebut biasa terjadi pada bulan pertama suntikan.

–     Bila gangguan tersebut menetap, perlu dicari penyebabnya, dan bila ditemukan kelainan ginekologik, klien perlu diobati/dirujuk.

–     Bila perdarahan yang terjadi tidak dapat diterima klien/mengancam kesehatan klien, maka hentikan penyuntikan, bantu klien memilih metode kontrasepsi yang sesuai.

3) Implant

Amenorrhea

–     Pastikan kehamilan, apabila tidak hamil, lakukan konseling tidak perlu penanganan khusus.

–     Bila klien tidak dapat menerima keadaannya, cabut implant dan anjurkan menggunakan kontrasepsi lain.

–     Bila terjadi kehamilan, dan klien ingin melanjutkan kehamilan, cabut implant dan jelaskan bahwa hormon progestin sintetik pada implant tidak berbahaya bagi janin.

–     Bila diduga terjadi kehamilan ektopik, rujuk klien.

Perdarahan bercak/Spotting

–     Jelaskan kembali bahwa perdarahan ringan/bercak sering ditemukan terutama pada tahun pertama panggunaan.

–     Bila klien tetap saja mengeluh dan merasa tidak nyaman atas keluhannya dan ingin tetap melanjutkan pemakaian, maka dapat diberikan pil kombinasi selama satu siklus dan berikan Ibuprofen 3x800mg selama 5 hari, perdarahan akan terjadi setelah pil kombinasi habis.

–     Apabila terjadi perdarahan lebih dari biasanya, maka berikan 2 tablet pil kombinasi untuk 3-7 hari dan kemudian dilanjutkan dengan satu siklus pil kombinasi, dan atau berikan 50µg ethynilestradiol atau 1,25mg estrogen equein konjugasi untuk 14-21 hari.

Ekspulsi batang implant

–     Cabut kapsul yang ekspulsi, periksa apakah kapsul yang lain masih di tempat, dan apakah terdapat tanda-tanda infeksi pada daerah insisi.

–     Apabila tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi dan kapsul yang lain masih berada pada tempatnya, pasang kapsul baru satu buah pada tempat insersi yang berbeda.

–     Bila ada infeksi, cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul baru pada lengan yang lain, atau anjurkan klien menggunakan metode kontrasepsi lain.

Infeksi pada daerah insersi

–     Bila terjadi infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan sabun dan air, kemudian berikan antiseptik, lalu berikan antibiotik oral yang sesuai untuk 7 hari.

–     Untuk sementara implant tidak dilepas, ditunggu satu minggu, klien diinstruksikan kembali dalam satu minggu.

–     Apabila setelah satu minggu keadaan luka tidak membaik, cabut implant dan pasang implant yang baru pada sisi lengan yang lain atau cari metode kontrasepsi lain yang sesuai.

–     Apabila ditemukan abses, bersihkan dengan antiseptic, lakukan insisi dan alirkan pus keluar, cabut implant, lakukan perawatan luka, dan berikan antibiotika oral yang sesuai selama 7 hari.

Berat badan naik/turun

–     Informasikan kembali pada klien tentang efek samping implant terhadap peningkatan berat badan, apabila terjadi perubahan berat badan 1-2 kg, maka hal ini masih dapat dikatakan normal.

–     Kaji ulang diit klien apabila terjadi perubahan berat badan 2 kg atau lebih.

–     Apabila perubahan berat badan ini tidak dapat diterima, maka bantu klien mencari metode kontrasepsi lain.

4) Intra Uterine Devices (IUD)

Perdarahan

–     Yakinkan klien bahwa jumlah darah haid atau perdarahan diantara haid menjadi lebih banyak pada pengguna AKDR terutama pada beberapa bulan pertama.

–     Lakukan evaluasi penyebab-penyebab perdarahan lainnya dan lakukan penanganan yang sesuai jika diperlukan.

–     Jika tidak ditemukan penyebab lainnya, beri NSAID (Non Steroid Anti Inflamatory) seperti ibuprofen selama 5-7 hari.

–     Jika perdarahan masih terjadi dan klien merasa sangat terganggu, tawarkan metode pengganti bila klien ingin menghentikan penggunaan AKDR.

Kram dan nyeri

–     Jelaskan bahwa spasme otot rahim dan dismenorhoe dapat terjadi pada pengguna AKDR, khususnya dalam beberapa bulan pertama.

–     Cari penyebab perdarahan dan beri penanganan yang sesuai jika diperlukan.

–     Jika tidak ditemukan penyebab yang lainnya, lakukan rujukan, sementara berikan Asetaminophen atau Ibuprofen setiap hari pada beberapa hari pertama menstruasi.

–     Jika perdarahan masih terjadi dan klien merasa sangat terganggu, tawarkan metoda pengganti bila klien ingin menghentikan penggunaan AKDR.

Penanganan keluhan benang AKDR

–     Jelaskan bahwa keluhan ini umum terjadi dan bukan masalah yang serius. Petugas akan mencoba untuk memeriksa kembali dan mencoba menghilangkan keluhan yang ada.

–     Pastikan AKDR terpasang baik dan tidak ada bagian-bagian yang terlepas sebagian

–     Jika AKDR terpasang baik pada tempatnya, lakukan perbaikan dengan menggunting benang hingga tidak menimbulkan gangguan atau melepas AKDR apabila setelah perbaikan masih ada keluhan.

–     Saat dilakukan perbaikan benang dengan memotong benang, maka guntinglah benang dengan tepat sehingga tidak menonjol keluar dari mulut rahim (muara cerviks). Jelaskan pula bahwa benang AKDR tidak lagi keluar dari mulut rahim dan pasangannya tidak akan merasakan juluran benang tersebut. Kemudain buatlah catatan untuk klien bahwa benang telah terpotong rata setinggi permukaan cerviks (penting dicantumkan guna kemudahan saat mencabut AKDR).

C.    Penanganan efek samping metode KB mantap

1) Tubektomi

 Reaksi alergi anestesi

–     Menjelaskan sebab terjadinya bahwa adanya reaksi hipersensitif atau alergi karena masuknya larutan anestesi lokal ke dalam sirkulasi darah atau pemberian anestesi lokal yang melebihi dosis.

–     Reaksi ini dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan operasi baik operasi besar atau kecil.

 Infeksi atau abses pada luka

–     Menjelaskan sebab terjadinya karena tidak terpenuhinya standar sterilitasi alat dan ruangan operasi serta pencegahan infeksi, atau kurang sempurnanya teknik perawatan luka pasca operasi.

Perforasi rahim

–     Menjelaskan sebab terjadinya, karena elevator rahim didorong terlalu kuat ke arah yang salah, teknik operasi yang cukup sulit dan peralatan yang kurang memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang rumit (biasanya posisi rahim hiperretrofleksi, adanya perlengketan pada rahim, dan pasca keguguran).

–     Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.

Perlukaan kandung kencing

–     Menjelaskan sebab terjadinya, karena tidak sempurnanya pengosongan kandung kencing.

–     Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.

Perlukaan usus

–     Menjelaskan sebab terjadinya karena tindakan yang tidak sesuai prosedur, teknik operasi yang cukup sulit dan peralatan yang kurang memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang rumit.

–     Terangkan mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.

Perdarahan mesosalping

–     Menjelaskan sebab terjadinya karena terpotongnya pembuluh darah di daerah mesosalping.

2) Vasektomi

Reaksi alergi anestesi

–     Reaksi ini terjadi karena adanya reaksi hipersensitif/alergi karena masuknya larutan anastesi lokal ke dalam sirkulasi darah atau pemberian anastesi lokal yang melebihi dosis. Penanggulangan dan pengobatannya adalah dengan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) untuk menjelaskan sebab terjadinya reaksi.

Perdarahan

–     Biasanya terjadi perdarahan pada luka insisi di tempat operasi, dan perdarahan dalam skrotum. Penyebab terjadinya perdarahan tersebut karena terpotongnya pembuluh darah di daerah saluran mani dan atau daerah insisi.

–     Penanggulangannya perdarahan dihentikan dengan penekanan pada pembuluh darah yang luka apabila terjadi pada saat operasi.

Hematoma

–     Hematoma ditandai dengan adanya bengkak kebiruan pada luka insisi kulit skrotum. Hal ini disebabkan karena pecahnya pembuluh darah kapiler. Penanggulangannya dilakukan dengan tindakan medis yaitu memberikan kompres hangat, kemudian beri penyangga skrotum, dan bila perlu dapat diberikan salep anti hematoma.

Infeksi

–     Gejala/keluhan apabila terjadi infeksi yaitu adanya tanda-tanda infeksi seperti panas, nyeri, bengkak, merah dan bernanah pada luka insisi pada kulit skrotum. Penyebab infeksi ini karena tidak dipenuhinya standar sterilisasi peralatan, standar pencegahan infeksi dan kurang sempurnanya teknik perawatan pasca operasi.

Granuloma sperma

–     Granuloma sperma yaitu adanya benjolan kenyal yang kadang disertai rasa nyeri di dalam skrotum. Penyebabnya adalah keluarnya spermatozoa dari saluran dan masuk ke dalam jaringan sebagai akibat tidak sempurnanya ikatan vas deferens.

–     Apabila granuloma sperma kecil akan di absorpsi spontan secara sempurna. Bila granuloma besar rujuk ke RS untuk dilakukan eksisi sperma granuloma dan mengikat kembali vas deferens, namun biasanya akan sembuh sendiri. Rasa nyeri dapat diatasi dengan pemberian analgetik.

Gangguan penis

–     Meningkatnya gairah seksual (libido) dan menurunnya kemampuan ereksi (impotensi) merupakan keluhan yang sering dialami oleh pria setelah operasi. Kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan psikologis (baik yang meningkat libidonya ataupun yang impotensi), karena secara biologis pada vasektomi produksi testoteron tidak terganggu sehingga libido (nafsu seksual) tetap ada.

–     Penanggulangan dari efek samping ini tidak perlu dilakukan tindakan medis, namun perlu dilakukan psikoterapi.

D.   Rujukan akseptor KB bermasalah

Pada beberapa laporan ilmiah dijelaskan bahwa terjadi peningkatan akseptor Metode Kontrasepsi Efektif Terpadu (MKET), yang berupa metode kontrasepsi hormonal, IUD dan steril. Dengan meningkatnya jumlah akseptor KB tersebut, maka pemerintah/ pemberi pelayanan KB dituntut untuk meningkatkan pelayanan yang lebih tinggi kualitasnya dan suatu upaya pengayoman akseptor yang lebih baik. Dalam rangka peningkatan kualitas layanan dan upaya pengayoman akseptor ini, maka sistim rujukan merupakan salah satu hal yang penting yang perlu diketahui oleh setiap elemen yang terkait dengan pelayanan KB (petugas, calon/akseptor, lembaga, dan masyarakat).

Sistim rujukan dalam mekanisme pelayanan MKET merupakan suatu sistim pelimpahan tanggung jawab timbal balik, baik secara vertikal maupun horizontal kepada fasilitas/unit pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau dan rasional, serta tidak dibatasi oleh wilayah administrasi, yang terjadi pada kasus atau masalah yang berhubungan dengan penggunaan MKET. Unit pelayanan yang dimaksud disini yaitu menurut tingkat kemampuan dari yang paling sederhana berturut – turut ke unit pelayanan yang paling mampu.

Tujuan Rujukan

  1. Terwujudnya suatu jaringan pelayanan MKET yang terpadu disetiap tingkat wilayah, sehingga setiap unit pelayanan memberikan pelayanan secara berhasil guna dan berdaya guna maksimal, sesuai dengan tingkat kemampuannya masing – masing.
  2. Peningkatan dukungan terhadap arah dan pendekatan gerakan KB Nasional dalam hal perluasan jangkauan dan pembinaan peserta KB dengan pelayanan yang makin bermutu tinggi serta pengayoman penuh kepada masyarakat.

 Jenis Rujukan

Rujukan MKET dapat dibedakan atasa 3 jenis yaitu sebagai berikut :

  1. Pelimpahan kasus
  2. Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan
  3. Pelimpahan bahan – bahan penunjang diagnostik.

Sasaran Rujukan

1) Sasaran Obyektif

–     PUS yang akan memperoleh pelayanan MKET

–     Peserta KB yang akan ganti cara ke MKET

–     Peserta KB MKET untuk mendapatkan pengamatan lanjutan.

2) Sasaran subyektif

Petugas – petugas pelayanan MKET di semua tingkat wilayah.

Tata Laksana Rujukan

  1. Internal antar petugas di satu Puskesmas
  2. Antara Puskesmas Pembantu dan Puskesmas
  3. Antara masyarakat dan Puskesmas
  4. Antara satu Puskesmas dan Puskesmas yang lain
  5. Antara Puskesmas dan Rumah Sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan kesehatan yang lain
  6. Internal antara bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit
  7. Antar rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan lain dan Rumah Sakit, Laboratorium atau fasilitas pelayanan yang lain.

Rujukan bukan berarti melepaskan tanggung jawab dengan menyerahkan klien-klien ke fasilitas pelayanan kesehatan lainnya, akan tetapi karena kondisi klien yang mengharuskan pemberian pelayanan yang lebih kompeten dan bermutu melalui upaya rujukan. Untuk itu, dalam melaksanakan rujukan harus telah pula diberikan:

  1. Konseling tentang kondisi klien-klien yang menyebabkan perlu dirujuk
  2. Konseling tentang kondisi yang diharapkan diperoleh di tempat rujukan
  3. Informasi tentang fasilitas pelayanan kesehatan tempat rujukan yang dituju
  4. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang dituju mengenai kondisi klien saat ini, riwayat kesehatan sebelumnya, serta upaya/tindakan yang telah diberikan
  5. Bila perlu diberikan upaya mempertahankan keadaan umum klien
  6. Bila perlu, kartena kondisi klien, dalam perjalanan menuju tempat rujukan harus didampingi perawat/bidan
  7. Menghubungi fasilitas pelayanan tempat rujukan dituju agar memungkinkan segera menerima rujukan klien.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang menerima rujukan, setelah memberikan upaya penanggulangan dan kondisi klien telah memungkinkan, harus segera mengembalikan klien ke tempat fasilitas pelayanan asalnya dengan terlebih dahulu memberikan:

  1. Konseling tentang kondisi klien sebelum dan sesudah diberi upaya penanggulangan
  2. Nasehat yang perlu diperhatikan klien mengenai kelanjutan penggunaan kontrasepsi
  3. Pengantar tertulis kepada fasilitas pelayanan yang merujuk mengenai kondisi klien berikut upaya penanggulangan yang telah diberikan serta saran-saran upaya pelayanan lanjutan yang harus dilaksanakan, terutama tentang penggunaan kontrasepsi.

Simpulan

Beberapa efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan metode kontrasepsi idealnya dapat diatasi oleh akseptor dengan tepat. Untuk itu diperlukan kemampuan bidan dalam memberikan konseling kepada akseptor tentang penanganan efek samping dan komplikasi dari setiap metode kontrasepsi. Motivasi dan apresiasi dari bidan sebagai salah satu pemberi pelayanan KB di masyarakat yang cukup berpengaruh penting diberikan kepada akseptor atas keikutsertaannya menjadi bagian dari proram KB. Bidan juga dituntut untuk dapat melakukan kerja sama dengan pemberi pelayanan KB yang lain. Hal ini sebagai upaya penanganan rujukan KB yang adekuat atas penanganan komplikasi yang mungkin timbul yang bukan menjadi kewenangan bidan.

Segala upaya tersebut merupakan suatu cara yang dapat dilakukan bidan ataupun pemberi pelayanan KB yang lain untuk dapat memberikan pengayoman terhadap akseptor KB, sehingga keberhasilan program KB untuk dapat mewujudkan keluarga kecil berkualitas dapat tercapai.

Rujukan

  1. Anonim. 2011. Skripsi: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Akseptor Kontap Pria. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/112/jtptunimus-gdl-nurulhiday-5581-2-babii.pdf. Diunduh 23 Mei 2012 pkl. 10.15.
  2. Arum, Diah. 2011. Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini. Jogjakarta: Nuha Medika.
  3. BKKBN. 2004. Panduan Upaya Peningkatan Peserta Kontrasepsi Mantap. Jakarta.
  4. Hartanto, Hanafi. 2004. KB dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  5. Joewono, HT. 1995. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  6. Saifuddin, BA. 2008. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
  7. Varney, Helen. 2007. Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.

Tips Diet Terbaik

Oleh: Gita Kostania

Mempunyai berat badan ideal merupakan dambaan setiap orang, tidak hanya wanita tetapi juga pria. Namun, berat badan ideal dengan status gizi yang kurang malah akan menimbulkan beberapa gangguan dalam metabolisme tubuh sehingga dapat mengakibatkan sakit. Untuk mandapatkan dan atau mempertahankan berat badan ideal dengan status gizi yang baik, pengaturan pola makan harus diperhatikan dengan baik, disamping olah raga yang tepat.

Diet dapat diartikan sebagai pengaturan pola makan, bukan mengurangi atau bahkan tidak makan sama sekali. Kelebihan berat badan diakibatkan oleh deposit lemak berlebih karena asupan nutrisi lebih besar dari aktivitas yang dilakukan. Untuk itu, berat badan ideal hanya akan diperolah apabila terjadi keseimbangan antara asupan nutrisi dengan tingkat aktivitas. Logikanya adalah, untuk menurunkan berat badan, diperlukan asupan nutrisi yang tepat dan sesuai, dengan meningkatkan aktivitas tubuh (dengan olah raga intensif yang membakar lemak dengan cepat). Dengan diet yang tepat dan olah raga teratur, maka berat badan ideal akan diperoleh dan tetap dipertahankan. Untuk itu, jadikan pola hidup sehat sebagai bagian dari gaya hidup kita.

getty_rf_photo_of_feet_on_scale

Tips No 1 : Minum Banyak Air atau Minuman Bebas Kalori Lainnya

Sebelum Anda merobek kantong keripik atau snack yang lainnya, minumlah segelas air terlebih dahulu. Orang kadang-kadang bingung antara haus dengan lapar, sehingga dapat berakhir dengan makan kalori ekstra ketika yang benar-benar dibutuhkan adalah air. Jika air putih tidak terpenuhi, cobalah minum secangkir teh herbal atau minuman lain yang tidak mengandung kalori (kalori dapat berasal dari gula, krim).

Tips No 2 : Pilihlah dengan tepat Makanan Ringan untuk Malam Hari

Makan makanan ringan paling sering terjadi setelah makan malam, ketika Anda akhirnya duduk dan bersantai. Ngemil di depan TV adalah salah satu cara termudah untuk menggagalkan diet Anda tentunya. Tetap perhatikan scank apa yang dimakan setelah makan malam, sebaiknya makanan ringan yang dimakan adalah yang rendah kalori tidak lebih dari 100 kalori. Cara lain adalah dengan menutup dapur setelah jam tertentu.

Tips No 3 : Nikmati Makanan Favorit Anda

Diet bukan berarti memotong semua makanan favorit Anda, namun menjadikan pembelanja yang cermat. Anda masih dapat membeli satu potong kue/roti bukannya satu kotakkotak, atau beberapa permen dari tempat permen massal bukan satu tas. Anda masih bisa menikmati makanan favorit Anda, kuncinya adalah tidak berlebih-lebihan.

Tip No 4 : Makan Beberapa Porsi Kecil Makanan di Siang Hari

Jika Anda makan lebih sedikit kalori daripada yang Anda bakar, Anda akan kehilangan berat badan. Tapi ketika Anda lapar sepanjang waktu, makan lebih sedikit kalori bisa menjadi suatu tantangan. Studi yang dilakukan Rebecca Reeves, menunjukkan orang yang makan 4-5 makanan atau snack per hari lebih mampu mengontrol nafsu makan dan berat badan. Beliau merekomendasikan untuk membagi kalori harian ke dalam makanan kecil atau makanan ringan dan menikmati sebagian besar dari mereka pada hari sebelumnya. Makan malam harus menjadi yang terakhir kali Anda makan setiap harinya.

Tip No 5 : Makan Protein pada Setiap Kali Makan

Protein adalah nutrisi pada makanan yang paling mengenyangkan. Mengkonsumsi protein yang cukup dapat lebih memuaskan, daripada mengkonsumsi karbohidrat atau lemak, dan membuat Anda merasa kenyang lebih lama. Hal ini juga membantu mempertahankan massa otot dan mendorong pembakaran lemak . Jadi pastikan untuk memasukkan protein sehat seperti makanan laut, daging tanpa lemak, putih telur, yogurt, keju , kacang kedelai dan olahannya, atau kacang-kacangan yang lain ke dalam makanan utama dan makanan ringan Anda.

Tip 6: Meningkatkan Tingkat Kepedasan Makanan

Tambahkan bumbu atau cabe ke makanan Anda untuk meningkatkan rasa yang dapat membantu Anda merasa puas. “Makanan yang sarat dengan rasa akan merangsang selera Anda dan lebih memuaskan, sehingga Anda tidak akan makan banyak”, kata juru bicara American Dietetic Association, Malena Perdomo. Makanan pedas cenderung meningkatkan selera makan, untuk itu pastikan sebelum makan Anda meminum air putih yang cukup, sehingga saat makan Anda dapat mengontrol dengan baik asupan nutrisi yang dikonsumsi.

Tip No 7 : Penuhi Dapur Anda Dengan Bahan Makanan Sehat, Aman dan Nyaman Dikonsumsi

Bahan makanan sehat, aman dan nyaman dikonsumsi dapat menjamin kandungan nutrisi yang baik. Penuhilah dapur atau cool-case Anda di rumah dengan makanan segar ataupun makanan kemasan yang bernutrisi. Hindari kehabisan bahan makanan di rumah, untuk mencegah mengkonsumsi makanan cepat saji.

Tip No 8 : Memesan Makanan Porsi Anak-Anak di Restoran

Memesan hidangan ukuran anak-anak adalah cara yang bagus untuk memotong kalori dan menjaga porsi Anda yang masuk akal. Hal ini telah menjadi tren populer, bahwa kebanyakan orang tidak akan heran ketika Anda memesan menu anak-anak. Trik lain adalah dengan menggunakan piring yang lebih kecil atau lebih pipih. Ini membantu agar tempat makan terlihat seperti sudah melebihi kapasitasnya. Jika pikiran Anda puas, perut Anda juga mungkin akan puas.

Tips No 9 : Tukar Seporsi Pasta Seporsi Sayuran

Cukup dengan mengurangi makan pasta atau roti dan lebih banyak sayuran, Anda bisa mengurangi ukuran baju atau celana dalam setahun. Anda dapat menyimpan 100-200 kalori jika Anda mengurangi porsi karbohidrat di piring Anda dan meningkatkan jumlah sayuran.

Tips No 10 : Selalu Sarapan / Makan Pagi

Sepertinya kemenangan diet mudah dengan melewatkan sarapan, dan Anda akan kehilangan berat badan. Namun beberapa studi menunjukkan sebaliknya. Tidak makan pagi/ sarapan dapat membuat Anda lapar kemudian, yang menyebabkan terlalu banyak menggigit dan pesta makan saat makan siang dan makan malam. Untuk menurunkan berat badan dan mempertahankannya, sempatkanlah selalu untuk makan pagi yang sehat, seperti makanan tinggi serat, susu rendah lemak , atau buah .

Tips No 11 : Sertakan Serat dalam Diet Anda

Serat membantu pencernaan, mencegah sembelit, dan menurunkan kolesterol, serta dapat membantu menurunkan berat badan. Kebanyakan orang mendapatkan hanya setengah serat yang mereka butuhkan. Untuk mendapatkan manfaat dari serat, kebanyakan wanita harus mendapatkan sekitar 25 gram sehari, sedangkan laki-laki membutuhkan sekitar 38 gram atau 14 gram per 1.000 kalori. Sumber serat yang baik meliputi oatmeal, kacang-kacangan, makanan gandum, beras merah dan berbagai buah-buahan dan sayuran .

Tip No 12 : Bersihkan Lemari Makanan dari Makanan yang dapat Menggemukkan

Jika Anda memiliki choco chip dan es krim dalam freezer, akan membuat Anda lebih sulit menurunkan berat badan daripada tidak memiliki. Mengurangi godaan makan makanan yang tinggi gula dan kalori dimulai dengan membersihkan lemari makanan dari makanan yang membuat gemuk. Ingin sesekali? Pastikan Anda harus meninggalkan rumah untuk mendapatkannya, sebaiknya dengan berjalan kaki atau bersepeda.

Tips No 13 : Menurunkan Berat Badan Perlahan-Lahan

Jika Anda kehilangan berat badan tapi tidak secepat seperti yang Anda inginkan , jangan berkecil hati. Menurunkan berat badan secara alami dan sehat, membutuhkan waktu. Para ahli menyarankan menetapkan tujuan penurunan berat badan yang realistis sekitar 0,5 s.d. 1 kg per minggu. Jika Anda menetapkan target terlalu tinggi, Anda mungkin menyerah ketika Anda tidak kehilangan berat badan cukup cepat. Ingat, Anda mulai melihat manfaat kesehatan ketika Anda telah kehilangan hanya 5 s.d. 10 % dari berat badan Anda

Tips No 14 : Timbang Diri Anda Seminggu Sekali

Orang yang menimbang berat badan sendiri secara teratur cenderung lebih sukses menurunkan berat badan. Tapi kebanyakan ahli menyarankan menimbang berat badan sendiri hanya sekali seminggu, sehingga Anda tidak tergelincir oleh fluktuasi harian . Bila Anda menimbang sendiri, ikuti tips berikut ini : timbang diri Anda pada waktu yang sama setiap minggunya, pada hari yang sama dalam seminggu, pada skala yang sama, dan dalam pakaian yang sama.

Tips No 15 : Mendapatkan Cukup Tidur

Saat Anda kurang tidur, tubuh Anda akan memproduksi secara berlebihan hormon ghrelin, yaitu hormon yang merangsang nafsu makan, tetapi mengurangi hormon leptin, hormon yang memberitahu Anda ketika saluran pencernaan Anda sudah penuh. Tidur cukup dapat membuat Anda merasa beristirahat dan tetap kenyang, serta menjaga Anda dari melakukan ngemil yang tidak perlu .

Tips No 16 : Memahami Ukuran Porsi

Kita begitu terbiasa untuk memakan makanan dengan ukuran/porsi besar ketika kita makan di luar. Untuk ukuran yang tepat bagi diet Anda, gunakan skala dapur dan gelas ukur untuk mengukur makanan Anda untuk satu atau dua minggu. Gunakan piring kecil dan gelas untuk berhemat porsi Anda. Bagilah porsi makan di restoran menjadi setengahnya, menjadi dua porsi makan besar. Makanlah untuk dua kali makan besar. Satu porsi dapat langsung dimakan dari tempat penyajiannya.

Tips No 17 : Makan Lebih Banyak Buah dan Sayuran

“Diet ” yang terbaik adalah di mana Anda bisa makan lebih banyak makanan, tidak kurang . Jika Anda makan lebih banyak buah dan sayuran, Anda tidak perlu merasa lapar karena makanan ini kaya gizi juga tinggi serat dan air, yang dapat memberikan perasaan kenyang. Ngemil dapat menjadi hal yang baik selama Anda memilih makanan ringan dengan cerdas.

Tip No 18 : Mengunyah Permen Karet Tanpa Gula

Daripada Anda memakan camilan yang benyak mengandung kalori, akan lebih baik bagi Anda mengkonsumsi beberapa permen karet bebas gula sebagai gantinya. Mengunyah beberapa jenis permen karet memberikan nafas segar dan juga dapat membantu mengelola rasa lapar, kontrol mengidam makanan ringan, dan membantu menurunkan berat badan. Perlu diingat, kelebihan sorbitol, dapat memiliki efek pencahar pada beberapa orang. Meskipun permen karet mungkin membuat Anda makan lebih sedikit, bukan berarti Anda dapat berhenti makan makanan yang bergizi. Diet yang baik dengan mengatur pola makan yang benar serta olahraga masih penting.

Tips No 19 : Jauhkan Buku Harian Makanan

Sebuah pena sederhana dan kertas dapat secara dramatis meningkatkan penurunan berat badan Anda. Studi menunjukkan tindakan menuliskan apa yang Anda makan dan minum cenderung membuat Anda lebih sadar apa, kapan, dan berapa banyak Anda mengkonsumsi makanan, yang kemudian memimpin Anda untuk akhirnya mengambil kalori lebih sedikit. Satu studi menemukan bahwa orang yang membuat catatan harian makanan enam hari seminggu kehilangan sekitar dua kali lipat berat badan dibandingkan dengan mereka yang hanya menyimpan buku harian satu hari dalam seminggu atau kurang.

Tips No 20 : Merayakan Keberhasilan (Tetapi Tidak dengan Makanan)

Anda kehilangan 3 kg dalam sebulan ini dan berjalan setiap hari? Saatnya untuk merayakan? Menghargai keberhasilan penurunan berat badan benar-benar dapat mendorong lebih banyak sukses, jadi bersenang-senanglah pada prestasi Anda. Hanya tidak merayakan dengan makanan junkfood atau makanan berkalori tinggi lainnya.

Tips No 21 : Dapatkan Bantuan dari Keluarga dan Teman-Teman

Mendapatkan dukungan dapat membantu Anda mencapai tujuan penurunan berat badan Anda. Jadi memberitahu keluarga dan teman-teman tentang usaha Anda untuk menjalani gaya hidup sehat. Mungkin mereka akan bergabung dengan Anda dalam berolahraga, makan yang benar, dan kehilangan berat badan. Ketika Anda merasa ingin menyerah, mereka akan membantu Anda, membuat Anda jujur ​​, dan menghibur Anda. Hal ini dapat membuat seluruh pengalaman jauh lebih mudah.

Tips No 21 : Metode Alternatif Lain

Banyak metode penurunan berat badan yang gencar dipublikasikan, baik dari mulut ke mulut ataupun lewat media. Apapun metode alternatif yang akan Anda gunakan, selalu perhatikan prinsip bahwa lemak akan tereduksi apabila metabolisme berjalan dengan cepat. Nutrisi yang tepat mutlak dibutuhkan untuk mendapatkan tubuh yang ideal dan sehat. Penuhi asupan gizi/kalori Anda sesuai dengan kebutuhan Basal Metabolisme Rate / BMR Anda. Berat badan akan turun apabila terjadi pembakaran lemak (pengeluaran energi) lebih banyak daripada masukan (makanan) yang dikonsumsi. Aktivitas fisik/ olah raga adalah kuncinya.

Sejatinya kebutuhan utama setiap orang adalah sehat jasmani, rohani, psikologis, dan produktif secara ekonomi dan sosial. Berat badan ideal merupakan salah satu indikator seseorang sehat jasmaninya. Fisik yang sehat akan meningkatkan produktivitas dan mencegah dari timbulnya beberapa penyakit. Kondisi sehat seperti ini merupakan suatu kebutuhan yang harus tetap terpenuhi selama kita masih hidup. Untuk itu, jadikan diit (pengaturan pola makan) sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

 

Source: http://www.webmd.com/diet/ss/slideshow-best-diet-tips-ever

Kenali secara Dini Gejala ADHD Dewasa (Hiperaktif)

ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder )

Attention deficit hyperactivity disorder ( ADHD ) adalah salah satu masalah perkembangan anak yang paling mudah dikenali, yaitu gangguan pemusatan perhatian, sering disebut dengan istilah hiperaktif. Kondisi ini ditandai dengan kurangnya perhatian pada sesuatu yang dianggap penting, hiperaktif dan impulsif. Saat ini diketahui bahwa gejala ini dapat terus berlanjut sampai usia dewasa (sekitar 60 % kasus). Namun, hanya sedikit orang dewasa yang diidentifikasi atau dirawat untuk gejala ADHD dewasa.

 ADHD

ADHD pada Masa Dewasa

Orang dewasa dengan ADHD mungkin memiliki kesulitan mengikuti arah, mengingat informasi, berkonsentrasi, mengorganisir tugas, atau menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu. Jika kesulitan-kesulitan tersebut tidak dikelola dengan tepat, hal ini  dapat menyebabkan gangguan perilaku, emosi, masalah sosial, dan akademis.

 

Perilaku Umum dan Masalah ADHD Dewasa

Perilaku dan masalah berikut mungkin berasal langsung dari ADHD atau mungkin hasil dari kesulitan penyesuaian, yaitu:

  • Kegelisahan
  • Kebosanan kronis
  • Keterlambatan kronis dan pelupa
  • Depresi
  • Kesulitan berkonsentrasi ketika membaca
  • Kesulitan mengendalikan amarah
  • Masalah ketenagakerjaan
  • Impulsif
  • Toleransi frustrasi rendah
  • Harga diri yang rendah
  • Perubahan suasana hati
  • Keterampilan organisasi miskin
  • Penundaan
  • Masalah hubungan
  • Penyalahgunaan zat adiktif atau kecanduan

Perilaku ini dapat ringan sampai parah dan dapat bervariasi sesuai dengan situasi atau dapat muncul sepanjang waktu. Beberapa orang dewasa dengan ADHD mungkin dapat berkonsentrasi jika mereka tertarik atau bersemangat tentang apa yang mereka lakukan. Orang lain mungkin mengalami kesulitan fokus dalam semua keadaan. Beberapa orang dewasa mencari stimulasi, tetapi orang lain menghindarinya. Selain itu, orang dewasa dengan ADHD dapat ditarik dari pergaulan sosial dan antisosial, atau mereka dapat menjadi terlalu sosial, pergi dari satu hubungan ke hubunyan berikutnya.

Penyebab ADHD Dewasa

Sementara para ahli tidak tahu pasti apa yang menyebabkan ADHD, mereka percaya bahwa gen mungkin memainkan peran penting pada gejala ADHD. Isu-isu lingkungan, seperti paparan rokok, alkohol, atau racun lainnya saat dalam kandungan juga mungkin memainkan peran. Tidak seperti gangguan kejiwaan lainnya, termasuk kecemasan dan depresi, ADHD tidak dimulai pada masa dewasa. Jadi gejala harus telah hadir sejak kecil untuk dapat didiagnosis ADHD dewasa.

Sepuluh Masalah yang dapat Diasosiasikan dengan ADHD Dewasa

Kriteria diagnostik konvensional digunakan untuk ADHD, termasuk gejala yang paling umum yang dikembangkan berdasarkan bagaimana kondisi yang ditampakkan pada masa anak-anak. Gejala ini termasuk pelupa dan melamun berlebihan, serta ketidakmampuan untuk duduk diam, atau konstan gelisah dengan mainan/benda mati. Namun banyak ahli berpikir gejala ADHD dewasa menampakkan diri secara berbeda dan lebih halus. Hal ini dapat menyulitkan kita dalam mengenali dan mendiagnosa ADHD dewasa.

1 : Kesulitan Mengorganisasi

Bagi orang-orang dengan ADHD, peningkatan tanggung jawab pada masa dewasa dapat menyebabkan masalah/gangguan pada pengorganisasian yang lebih jelas dan lebih berbahaya daripada masa anak-anak. Sementara beberapa gejala ADHD pada masa dewasa dapat lebih mengganggu orang lain dan dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka.

2 : Gangguan Mengendarai dan Kecelakaan Lalu Lintas

ADHD dewasa dapat mengakibatkan penderita sulit untuk menjaga perhatian pada tugas, sehingga dapat mengalami kesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Gejala ADHD dapat membuat beberapa orang lebih cenderung untuk mengalami kecelakaan lalu lintas.

3 : Kesulitan Pernikahan

Banyak orang tanpa ADHD memiliki masalah perkawinan, jadi pernikahan yang bermasalah tidak pasti merupakan penderita ADHD dewasa. Tetapi ada beberapa masalah dalam pernikahan yang sangat mungkin mempengaruhi hubungan mereka dengan penderita ADHD. Jika Anda orang yang menderita ADHD, Anda mungkin tidak mengerti mengapa mitra Anda marah, dan Anda mungkin merasa Anda sedang merengek atau dipersalahkan atas sesuatu yang bukan salah Anda.

4 : Pengalihan yang Ekstrim

ADHD  adalah masalah regulasi perhatian, sehingga ADHD dewasa dapat menyebabkan seseorang sulit untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan berhasil dan dalam ritme yang serba cepat. Banyak orang menemukan pengalihan yang dapat menyebabkan kinerja berkurang. Jika Anda cenderung memiliki gejala ADHD dewasa, Anda mungkin menemukan bahwa panggilan telepon atau email mengalihkan perhatian Anda, sehingga sulit bagi Anda untuk menyelesaikan tugas .

5 : Keterampilan Mendengarkan yang Kurang Baik

Apakah selama pertemuan bisnis/pekerjaan yang panjang topik pembicaraan Anda keluar dari zona yang seharusnya? Masalah/gangguan pemusatan perhatian dalam keterampilan mendengarkan yang kurang baik pada orang dewasa dengan ADHD dapat menyebabkan banyak janji yang tidak ditepati dan kesalahpahaman .

6 : Gelisah, Kesulitan untuk Bersantai

Gejala ADHD ini sering muncul secara berbeda pada orang dewasa dibandingkan dengan ADHD pada anak-anak. Orang dewasa dengan ADHD lebih mungkin untuk menunjukkan kegelisahan/ketegangan atau menemukan bahwa mereka tidak bisa bersantai.

7 : Kesulitan Memulai Tugas

Sama seperti anak-anak dengan ADHD yang sering menunda melakukan pekerjaan rumah, orang dewasa dengan ADHD juga sering “menyeret kaki mereka” ketika memulai tugas yang membutuhkan banyak perhatian. Penundaan ini sering menambah permasalahan yang ada, termasuk masalah di tempat kerja, dan masalah dengan teman-teman.

8 : Keterlambatan Kronis

Ada banyak alasan kenapa orang dewasa dengan ADHD biasanya terlambat. Pertama, mereka sering terganggu dalam perjalanan ke sebuah acara, mungkin banyak hal yang mengganggu perhatian mereka, sampai mereka menyadari bahwa satu jam telah berlalu. Orang dewasa dengan ADHD juga cenderung meremehkan tentang banyaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, entah itu tugas utama di tempat kerja atau tugas sederhana di rumah.

9 : Luapan Kemarahan

ADHD  sering menyebabkan masalah dalam pengendalian emosi. Banyak orang dewasa dengan ADHD yang cepat untuk meledak-ledak (marah) walaupun hanya masalah kecil. Seringkali orang dewasa dengan ADHD merasa seolah-olah mereka sama sekali tidak memiliki kontrol atas emosi mereka.

10 : Gangguan Memprioritaskan Masalah

ADHD juga dapat mendatangkan masalah dalam hal perencanaan. Seringkali orang dewasa dengan ADHD gagal memenuhi kewajiban besar, seperti tidak menepati batas waktu di tempat kerja, sementara menghabiskan banyak waktu pada sesuatu yang tidak signifikan, seperti mendapatkan skor yang lebih tinggi pada video game.

Apakah Anda termasuk Penderita ADHD Dewasa?

Hanya profesional kesehatan (dokter) yang mempunyai kualifikasi yang dapat membuat diagnosis akurat dari orang dewasa dengan ADHD, tetapi ada beberapa tes skrining diri yang dapat membantu Anda memutuskan apakah akan berkonsultasi dengan dokter tentang gejala ADHD dewasa atau tidak, karena banyak kondisi yang berbeda dapat menyebabkan gejala mirip seperti ADHD dewasa. Tes ini saja tidak dapat mendiagnosis ADHD dewasa.

Apabila setelah berbicara dengan dokter, Anda atau teman Anda didiagnosis dengan ADHD dewasa, Anda harus bekerja sama dengan dokter Anda untuk merancang rencana pengobatan yang terbaik. Seringkali ADHD dewasa diobati dengan kombinasi obat ADHD, seperti Adderall, Konser, Ritalin, atau Strattera, dan terapi penunjang yang lain.

Translated, main source ……  http://www.webmd.com/add-adhd/guide/adhd-adults

Pemrosesan Alat-Alat Medis (2) “Tahapan Proses Eradikasi”

Oleh: Gita Kostania

Tabel: Jumlah Mikroorganisme yang dapat Dihilangkan pada Setiap Tahapan Proses Eradikasi

Keterangan

Dekontaminasi

Pembilasan

Pencucian

DTT

Sterilisasi

Tingkat Eradikasi Mikroorganisme

Terutama virus pathogen (Hepatitis B dan HIV/AIDS)

50%

80%

95%

100%

Proses

Rendam dalam larutan klorin 0,5%

Siram dengan air

Pakai sabun larutan antiseptic dan air

Rebus/ kukus 20 menit

Panas 1700C & panas 1210 C, uap 106 Kpa 60 menit dan 20-30 menit

Hasil

Inaktivasi dan membunuh virus pathogen dan beberapa mikroorganisme

Hilangkan mikroorganisme secara fisik dengan pembersihan

Pembersihan

Sisa kuman dengan endospora

Menghilangkan semua mikroorganisme

Dekontaminasi

Semua peralatan, termasuk sarung tangan, harus dilakukan dekontaminasi segera setelah digunakan agar aman untuk dikelola dan dicuci. Petunjuk:

1.   Proses dekontaminasi menggunakan larutan klorin 0,5%

2.  Gunakan sarung tangan (sarung tangan tebal dari bahan karet atau polivinil) untuk mengumpulkan dan memasukkan instrument ke dalam larutan

3.  Siapkan wadah khusus dan bahan anti karat (plastic, email atau porselen) dengan ukuran yang memadai bagi sejumlah peralatan instrument

4.  Jumlah cairan harus cukup untuk merendam seluruh instrument

5.  Rendam selama 10 menit

6.  Gunakan larutan yang baru

7.  Ganti larutan bila sudah digunakan berulangkali atau menjadi keruh, kondisi larutan yang baik menjamin daya kerja yang efektif

8.  Setelah semua instrument direndam, bersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin tersebut, lepaskan secara terbalik, kemudian rendam dalam larutan yang sama

9.  Cuci tangan dengan sabun/larutan antiseptic, bilas dengan air bersih hingg bersih

10.   Permukaan yang luas seperti meja periksa atau meja tindakan yang terkena darah atau cairan tubuh pasien harus dilakukan dekontaminasi dengan jalan menyeka permukaan atau benda-benda yang tercemar dengan klorin 0,5%.

Petunjuk Pembuatan Larutan Klorin

Bagian air (H2O) =  % konsentrat / sediaan           – 1

                           % pengenceran / diinginkan

Rumus untuk membuat larutan yang diencerkan dari larutan KONSENTRAT/SEDIAAN

 Contoh :

Membuat larutan klorin 0,5% dari klorin 5,25%

Hitung :  Jumlah bagian air = 5,25%   – 1 = 10 – 1 = 9

                                           0,5%

Ambil 1 bagian larutan sediaan (5,25%), dan tambahkan dengan 9 bagian air

  Membuat larutan klorin 0,1 % dari konsentrat 5 %

Hitung :  Jumlah bagian air = 5%   – 1 = 50 – 1 = 49

                                          0,1%

Ambil 1 bagian larutan sediaan (5%), dan tambahkan dengan 49 bagian air

Bila digunakan air matang, larutan klorin 0,1 % cukup baik. Bila dilarutkan dalam air bersih tetapi belum matang atau difiltrasi dibutuhkan konsentrasi 0,5%. Hal ini disebabkan sebagian klorin yang ada diinaktivasi oleh mikroorganisme yang terdapat di dalam air mentah.

Bubuk (g/l) = % pengenceran/diinginkan   x 1000

                        % konsentrat/sediaan

Rumus untuk membuat larutan yang mengandung klorin dari BUBUK KERING

 Contoh:

Membuat larutan yang mengandung klorin 0,5 % dari bubuk kaporit dengan konsentrat 35 %

Hitung :         Bubuk (g/l) = 0,5 %   x 1000

                                          35 %

Tambahkan 14,2 g ( dibulatkan 14 gram ) dalam 1 liter air

Pencucian

Petunjuk:

1.   Pencucian tidak dianjurkan menggunkan air panas karena akan mengkoagulasi protein (termasuk darah) sehingga menyulitkan pembersihkan. Sabun atau detergen sangat membantu membersihkan bagian-bagian yang mengandung lemak dan protein. Tidak diperkenankan menggunakan sabun tangan karena meninggalkan residu yang sulit dibersihkan.

2.     Gunakan sarung tangan tebal/rumah tangga jangan yang mudah robek atau sudah bocor. Dianjurkan menggunakan kaca mata pelindung untuk melindungi mukosa mata dari percikan.

3.     Buka semua instrument yang mempunyai engsel dari kunci. Lepaskan bagian yang dapat dilepas atau dibongkar pasang. Bersihkan bagian dalam dan luar dari sarung tangan

4.     Masukkan instrument dari wadah dekontaminasi ke dalam wadah yang berisi air dan sabun

5.     Bersihkan bagian-bagian instrument yang kotor atau dicemari darah/cairan tubuh

6.     Lakukan penyikatan di dalam air rendaman untuk mengurangi percikan bahan-bahan yang terlepas akibat penyikatan atau cairan pencuci

7.     Untuk membersihkan darah atau jaringan dari ujung kanula : meghisap dan mengeluarkan cairan sabun atau detergen berkali-kali hingga kotoran hilang. Apabila belum bersih, pegang dan masukkan kanula ke dalam air kocok maju mundur kuat-kuat (hati-hati jangan sampai terkena percikan). Jangan menggunakan sikat untuk membersihkan kotoran dalam kanula karena akan menggores dinding dalam kanula dan menjadi tempat berlindung mikroorganisme

8.     Sikat dan seka hingga jelas tampak bersih

9.     Bilas dengan air mengalir agar bersih dari sisa bahan/kotoran dan cairan pencuci/busa sabun, karena beberapa detergen dapat menghambat kerja desinfektan kimiawi

10.   Letakkan instrument di atas kain bersih, instrument yang akan diproses lebih lanjut (DTT) dengan jalan perebusan, dapat langsung dimasukkan ke dalam panic perebus.

 

Desinfeksi Tingkat Tinggi ( DTT )

Panas Basah ( Perebusan atau Pengukusan ), petunjuk :

1.      Proses dilakukan setelah dekontaminasi dan pencucian

2.     Gunakan wadah dari bahan logam dan mempunyai penutup

3.     Instrument harus terendam seluruhnya di dalam air (rebus) atau tidak melebihi tingkat wadah pengukusan (kukus)

4.     Usahakan agar jumlah instrument tidak terlalu banyak/penuh agar pengurangan air akibat penguapan, tidak menyebabkan sebagian instrument berada di atas permukaan air atau instrument memukul dinding wadah/membuka tutup pada saat air bergolak (rebus)

5.     Waktu 20 menit dihitung dari saat air mulai mendidih atau terbentuknya uap yang diakibatkan oleh air yang mendidih. Tidak diperkenankan menambah air atau apapun apabila proses perebusan atau pengukusan belum selesai. Ingat : uap air panas pada 800 C, membunuh semua bakteri, virus, parasit, dan jamur dalam 20 menit. Kecuali bila ketinggian klinik di atas 5500 meter tidak perlu memperpanjang waktu perebusan

6.     Sesudah 20 menit, matikan api/pemutus arus listrik, pindahkan wadah dan atau buka penutupnya, keluarkan instrument (pakai penjepit), dinginkan, langsung pakai atau simpan di wadah DTT.

 

Kimiawi, petunjuk:

1.      Sebelumnya instrument harus sudah melalui proses dekontaminasi dan pencucian

2.     Gunakan larutan: klorin 0,1 – 0,5 % (tergantung air pelarut); Glutaraldehida 2 % atau sesuai dengan petunjuk penggunaan

3.     Meskipun alcohol, iodine & iodophor relative murah, tidak diklasifikasikan untuk DTT

4.     Larutan klorin sangat efektif melawan virus Hepatitis B dan AIDS, murah dan mudah diperoleh. Klorin sangat berguna untuk dekontaminasi permukaan yang luas (meja periksa). Klorin besifat korosif terhadap benda logam, namun instrument tahan karat cukup aman untuk direndam (menggunakan wadah plastic) 20 menit. Klorin cepat sekali berubah keadaannya sehingga harus dibuat larutan baru atau harus selalu diganti. WHO (1989) menganjurkan proses dekontaminasi dengan klorin 0,5 %, sedangkan DTT klorin 0,1 %, dianggap cukup efektif dan pelarutnya dengan air matang. Glutaraldehida dipakai sebagai sterilisator kimiawi dan DTT. Zat ini kurang iritatifnya dibanding formaldehida. Larutan atau tablet formaldehida untuk proses pencegahan infeksi harus dihindari karena bersifat karsinogen.

5.     Sebaiknya digunakan larutan yang baru dicampur atau masa penggunaannya belum kadaluarsa

6.     Gunakan wadah yang mempunyai penutup dan terbuat dari bahan non korosif (plastic, kaca, email atau alumunium)

7.     Digunakan untuk instrument yang tidak tahan panas (plastic, lensa optic dan karet)

8.     Instrument harus terendam dengan baik

9.     Waktu untuk DTT adalah 20 menit

10.   Setelah 20 menit, angkat instrument (pakai penjepit), bilas dengan air DTT/steril hingga sisa larutan DTT dapat dihilangkan (karena iritatif) langsung digunakan atau disimpan di dalam wadah DTT dapat disimpan hingga 1 minggu.

 Sterilisasi

Otoklaf ( Sterilisasi Uap ), petunjuk :

1.      Instrument harus sudah diproses dekontaminasi dan pencucian sebelum sterilisasi

2.     Instrument sudah dibungkus (apabila diperlukan) dan disusun sedemikian rupa sehingga panas dan uap bertekanan, dapat mencapai semua bagian secara efektif. Periksa persiapan otoklaf ( listrik, jumlah air, alat penera suhu dan tekanan, kunci penutup )

3.     Setelah penyusunan selesai, tutup penutupnya dan lakukan penguncian, hidupkan arus listrik atau pemanas, atur suhu hingga 1210 C (2500 F) dan tekanan 106 Kpa

4.     Setelah kondisi tersebut tercapai, mulai dilakukan penghitungan atau pengaturan waktu 20 menit ( untuk instrument yang tidak dibungkus ) dan 30 menit ( untuk instrument terbungkus )

5.     Matikan arus listrik atau sumber pemanas, keluarkan sisa tekanan dan uap air, keluarkan instrument yang diinginkan. Diamkan semua alat sampai kering sebelum diangkat. Setelah dingin, instrument siap dipergunakan, apabila tidak langsung dipakai, simpan di tempat/tromol kecil.

 

Oven ( Sterilisasi Panas Kering ), petunjuk :

1.      Sebelum dilakukan proses ini, instrument sudah melalui proses dekontaminasi dan pencucian

2.     Susun sedemikian rupa sehingga paparan panas mencapai seluruh permukaan instrument secara efektif. Jangan mengisi terlalu penuh, karena akan mempengaruhi penyaluran panas dan menambah waktu yang diperlukan

3.     Tutup oven, atur temperature pada suhu 1700 C

4.     Setelah mencapai temperature tersebut, mulai dilakukan pengaturan atau perhitungan waktu untuk 60 menit ke depan

5.     Untuk alat-alat tajam ( gunting, jarum ), sterilisasi dilakukan dengan suhu 1600 C, selama 2 jam tidak lebih dari 162,80 C (3250 F), bila tidak bagian tajam akan rusak

6.     Waktu dihitung sejak oven mencapai suhu yang diinginkan

7.     Matikan arus listrik atau sumber pemanas setelah proses selesai, buka penutup oven, ambil instrument ( pakai penjepit ), dinginkan, langsung pakai/simpan di tempat steril

8.     Alat yang sudah streril sebaiknya segera digunakan atau dibungkus 2 lapis dengan kain kassa, kertas atau lainnya sebelum disterilkan. Pembungkus harus cukup berpori sehingga uap dapat masuk, namun juga cukup rapat untuk melindungi agar partikel debu atau mikroorganisme lainnya tidak dapat masuk. Alat-alat steril yang dibungkus dapat disimpan lebih dari 1 minggu asal tetap kering dan pembungkusnya utuh (Perkins, 1983). Penyimpanan dalam plastic yang disegel dapat bertahan 1 bulan. Seluruh bungkusan diberi label dan batas kedaluarsa.

 

Sterilisasi Kimiawi / Sterilisasi Dingin, petunjuk:

1.      Sebelum proses ini, instrument sudah melalui proses dekontaminasi dan pencucian

2.     Gunakan larutan : Glutaraldehida (Cydex) 2 % atau sesuai petunjuk penggunaan

3.     Pakai larutan yang baru dicampur atau belum kedaluwarsa

4.     Gunakan wadah non korosif dan mempunyai penutup

5.     Pastikan instrument terendam secara baik

6.     Waktu sterilisasi : direndam 8 – 10 jam (Glutaraldehida 2 %), 24 jam (Formaldehida 8 %). Glutaraldehida membutuhkan tambahan penanganan khusus karena meninggalkan endapan pada alat-alat yang disterilkan, sehingga setelah digunakan harus dibilas bersih.

7.     Apabila instrument ini ingin segera dipakai, setelah waktu tersebut tercapai, angkat instrument (pakai penjepit), hilangkan sisa larutan tersebut dengan air steril (pembilasan) den letakkan di tempat steril

8.     Instrument dapat tetap disimpan dalam wadah yang berisi larutan tersebut tetapi larutan ini harus diganti setiap 2 minggu. Apabila instrument ingin digunakan, tetap harus dilakukan pembilasan dengan air steril

9.     Pembilasan ini sangat penting karena larutan yang digunakan dalam proses ini bersifat iritatif terhadap mukosa dan jaringan tubuh.

Pedoman Penyusunan Soal Pilihan Ganda

Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, maka dilakukan evaluasi pembelajaran. Hal ini merupakan dasar untuk menetapkan apakah peserta didik dinyatakan kompeten atau tidak dalam penguasaan materi. Evaluasi terdiri dari dua langkah, yaitu mengukur dan menilai. Mengukur merupakan suatu langkah untuk mendapatkan data objektif, sedangkan menilai adalah suatu tindakan menafsirkan hasil pengukuran, yang pelaksanaannya menggunakan acuan-acuan tertentu, apakah menggunakan acuan norma ataukah acuan patokan.

Pengukuran hasil belajar menggunakan alat ukur yang berupa instrument tes. Tes merupakan alat ukur yang tepat digunakan untuk mengukur kompetensi terutama dalam ranah kognitif. Penulisaan butir soal yang baik dalam instrument tes mutlak diperlukan, karena hanya dengan alat ukur yang baiklah didapatkan hasil evaluasi belajar yang tepat.

Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang dapat menghasilkan hasil pengukuran yang tepat (valid) dan tetap/ajeg (reliable). Alat ukur dikatakan valid jika alat ukur tersebut dapat menghasilkan hasil pengukuran yang tepat. Sedangkan alat ukur dikatakan reliable apabila alat ukur tersebut mampu menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg atau konsisten. Jadi validitas dan reliabilitas hasil pengukuran merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh instrument atau alat ukur.

 

Selengkapnya :

-Pedoman Penyusunan Soal Pilgan

-Lampiran – Pedoman Penyusunan Soal Pilgan

Domain Sistem Informasi Kesehatan

A. Sistem Informasi Manajemen Dokumen

Manajemen dokumen merupakan suatu sarana untuk menyampaikan pernyataan atau informasi secara tertulis dari pihak satu kepada pihak lainnya. Adapun manfaatnya adalah: sebagai bahan pengambilan keputusan, sebagai memori suatu organisasi, sebagai referensi sejarah suatu organisasi, mengurangi resiko teknis dan biaya, meningkatkan efisiensi dan proses kinerja organisasi, serta meningkatkan proses pengendalian yang lebih baik.

Sistem informasi manajemen dokumen yang akan dibahas adalah sistem informasi manajemen dokumen elektronik, yaitu suatu sistem aplikasi pengelolaan dokumen hardcopy (dalam bentuk laporan paper based) yang sudah diubah ke dalam format digital ataupun softcopy berupa file tipe doc, ppt, xls, 3gp, avi, mkv, dll, kemudian diupload ke dalam software tertentu. Dokumen yang sudah diupload tersebut kemudian dapat diakses, dicari, ditampilkan, maupun didistribusikan oleh pengguna dokumen melalui sistem ini.

Dengan penerapan sistem menajemen dokumen elektronik ini diharapkan dapat:

  1. Terciptanya pengelolaan dokumen yang lebih baik
  2. Adanya penyimpanan salinan fisik file dokumen ke dalam media elektronik
  3. Menjaga keamanan dari informasi yang terkandung dalam dokumen dari bahaya yang tidak diinginkan, seperti: kebakaran, banjir, kehilangan dokumen, dll.
  4. Sebagai sarana untuk mempercepat proses pencarian dokumen yang dilakukan secra elektronik
  5. Mempercepat penemuan fisik dokumen dengan menentukan/memasukkan informasi lokasi penyimpanan dokumen (dapat dikembangkan dengan menggunakan barcode)
  6. Dokumen fisik akan terjaga kelestariannya karena penggunaannya semakin jarang digunakan
  7. Sistem selanjutnya dapat dikembangkan dengan pemanfatan dan pengelolaan dokumen dengan akses melalui internet

Karakteristik sistem manajemen dokumen elektronik adalah sebagai berikut:

  1. Capture. Capture merupakan hal penting bagi catatan dan dokumen elektronik untuk pengarsipan, retrieval dan disrtibusi sebagai solusi dokumen menajemen. Dokumen imaging dan platform management menyediakan dasar scanning, batch proses dan import dokumen elektronik. Kemajuan yang utama dalam teknologi scan emmbuat dokumen dikonversi secara cepat, murah dan gampang. Proses scan yang baik akan meletakkan kertas menjadi file komputer dengan mudah.
  2. Storage. Sistem penyimpanan dokumen yang dapat dilakukan dalam jangka waktu panjang dan relatif aman serta penyimpanan dokumen yang mengakomodasi perubahan dokumen, volume yang bertambah dan mempercepat teknologi.
  3. Index. Sistem index yang menciptakan suatu sistem pengarsipan secara terorganisisr yang dapat ditampilkan kembali secara efisien dan mudah. Suatu sistem index yang baik akan membuat prosedur yang berjalan dan lebih efektif.
  4. Retrieval. Sistem perolehan kembali menggunakan informasi dokumen yang mencakup teks, index dan gambar ke dalam sistem. Suatu sistem perolehan kembali yang baik akan membuat pencarian dokumen dengan sepat dan mudah.
  5. Access. Suatu sistem akses yang baik akan membuat hak akses secara personal apakah berada di kantor atau dapat melalui internet secara flesibilitas untuk mengendalikan akses sistem.
  6. Proses. Kerja sistem manajemen dokumen elektronik ini nanti ya dilakukan sendiri oleh pihak yang terkait.

Beberapa keuntungan dari sistem manajemen dokumen elektronik adalah sebagai berikut:

  1. Mempunyai tingkat kecepatan pencarian dokumen yang tinggi.
  2. Tingkat ketepatan yang tinggi, karena menggunakan sistem indeks, pencatatan tempat penyimpanan secara fisik dan mempunyai dokumen bayangan dalam bentuk CD-ROM.
  3. Mendukung pengelolaan dokumen. Dokumen elektronik dapat juga mengelola dokumen dalam bentuk audio, video, maupun berbagai jenis gambar seperti photo, poster, peta, dll.
  4. Tingkat keamanan yang tinggi. Sistem ini terproteksi dengan adanya password, dan mempunyai salinan data (backup) yang disimpan dalam lokasi atau media berbeda.

Selain keuntungan di atas, sistem ini juga dapat membantu agar penyimpanan dokumen disimpan dalam media CD-R, DVD, serta media lainnya. Sangat baik untuk mengatur dokumen dalam jumlah besar dan dapat memudahkan untuk malakukan indeks, penyimpanan, pencarian, penampilan di layar, mencetak dan mengirimkan melalui email.

 

B. Sistem Informasi Rekam Medis Elektronik

Rekam medik adalah himpunan seluruh data yang diperoleh serta diciptakan sepanjang kontak pasien dengan sistem pelayanan kesehatan.

Rekam medik kesehatan elektronik adalah kegiatan komputerisasi isi rekam kesehatan dan proses elektronisasi yang berhubungan dengannya. Elektronisasi ini menghasilkan sistem yang secara khusus dirancang untuk mendukung pengguna dengan berbagai kemudahan fasilitas bagi kelengkapan dan keakuratan data, memberi tanda waspada, sebagai peringatan, tanda sistem pendukung keputusan klinik dan menghubungkan data dengan pengetahuan medis serta alat bantu lainnya.

Menurut Shortliffe (2001), rekam medik elektronik (rekam medik berbasis-komputer) adalah gudang penyimpanan informasi secara elektronik mengenai status kesehatan dan layanan kesehatan yang diperoleh pasien sepanjang hidupnya, tersimpan sedemikian rupa, hingga dapat melayani berbagai pengguna rekam medis yang sah.

Karakteristik rekam medis elektronik, yaitu:

  1. Akses simultan dari berbagai tempat
  2. Tampilan data dapat dilihat dari berbagai pendekatan
  3. Data entry lebih terstruktur
  4. System pendukung keputusan
  5. Mempermudah analisis data
  6. Mendukung pertukaran data secara elektronik dan pemanfaatan data secara bersama-sama (data sharing)
  7. Dapat bersifat multimedia

Manfaat teknologi informasi dalam rekam kesehatan elektronik yang paling tinggi adalah mengurangi medical error dan meningkatkan keamanan pasien (patient safety). Salah satu peranan kecil teknologi informasi dalam tindakan pencegahan medical error, yakni dengan melakukan pengaturan rekam medis pada suatu sistem aplikasi manajemen rekam medis. Dengan adanya sistem aplikasi manajemen rekam medis, maka medical error dalam pengambilan keputusan oleh tenaga kesehatan dapat dikurangi karena setiap pengambilan keputusan akan berdasarkan rekam medis pasien yang telah ada.

Menurut Thede (2008) penerapan rekam medik elektronik mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya:

  1. Dapat meminimalkan  human eror, karena rekam medik elektronik dapat menghasilkan peringatan dan kewaspadaan klinik
  2. Dapat berhubungan dengan sumber pengetahuan untuk penunjang keputusan layanan kesehatan
  3. Rekam medik elektronik dapat melakukan pengambilan data sinyal biologis secara otomatis
  4. Dengan rekam medik elektronik dapat memasukkan data pasien dan memperoleh saran untuk penanganan pasien
  5. Dengan rekam medik elektronik data rutin dapat langsung diperoleh  (dalam bentuk siap olah) dari basis data rekam medik. Sedangkan data non rutin dapat dikumpulkan pada waktu pemeriksaan pasien dan dimasukkan dalam rekam medik.

Sedangkan menurut Sabarguna (2005) kelebihan rekam medik elektronik diantaranya:

  1. Ketepatan waktu dalam pengambilan keputusan medik, sehingga mutu pelayanan atau asuhan akan semakin baik
  2. Kemudahan penyajian data sehingga penyampaian informasi akan lebih efektif
  3. Pembentukan database yang memungkinkan penelitian, simulasi dan pendidikan tenaga medik maupun paramedik, berdasarkan data yang nyata
  4. Efisiensi pemanfaatan sumber daya dan biaya dengan sistem penyediaan bahan (inventory) yang dapat menekan biaya penyimpanan, pemesanan barang maupun biaya stockout, manajemen utilisasi menyangkut tindakan atau prosedur yang tidak perlu, dan lain-lain.

Adapun menurut Thede (2008), kekurangan dari penerapan rekam medik elektronik adalah:

  1. Membutuhkan investasi awal yang lebih besar daripada rekam medik kertas untuk  pengadaan perangkat keras, lunak, dan biaya penunjang
  2. Waktu yang harus disediakan oleh key person dan perawat dalam mempelajari sistem dan merancang ulang alur kerja memerlukan waktu yang lama
  3. Konversi Rekam medik kertas ke rekam medik elektronik memerlukan waktu, sumber daya, tekad dan kepemimpinan
  4. Resiko kegagalan pada sistem computer
  5. Problem dalam pemasukan data oleh petugas kesehatan

 

C. Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis yang terdiri dari perangkat lunak, perangkat keras, maupun aplikasi-aplikasinya, telah dikenal secara luas sebagai alat bantu (proses) pengambilan keputusan. Sebagian besar institusi pemerintah, swasta, akademis maupun non akademis juga individu yang memerlukan informasi yang berbasiskan data spasial telah mengenal dan menggunakan sistem ini.

Sistem Informasi Georafis atau Georaphic Information Sistem (GIS) merupakan suatu sistem informasi yang berbasis komputer, dirancang untuk bekerja dengan menggunakan data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Sistem ini mengcapture, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisa, dan menampilkan data yang secara spasial mereferensikan kepada kondisi bumi. Teknologi SIG mengintegrasikan operasi-operasi umum database, seperti query dan analisa statistik, dengan kemampuan visualisasi dan analisa yang unik yang dimiliki oleh pemetaan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan Sistem Informasi lainya yang membuatnya menjadi berguna berbagai kalangan untuk menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang terjadi.

Definisi SIG sangatlah beragam, karena memang defenisi SIG selalu berkembang, bertambah dan sangat bervariasi, dibawah ini adalah beberapa definisi SIG.

  1. Menurut Gistut (1994), SIG adalah sistem yang dapat mendukung pengambilan keputusan spasial dan mampu mengintegrasikan deskripsi-deskripsi lokasi dengan karakteristik-karakteristik fenomena yang ditemukan di lokasi tersebut. SIG yang lengkap mencakup metodologi dan teknologi yang diperlukan yaitu data spasial perangkat keras, perangkat lunak dan struktur organisasi Gistut (1994)
  2. Burrough (1986), mendefinisikan SIG adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk memasukan, menyimpan, mengelola, menganalisis dan mengaktifkan kembali data yang mempunyai referensi keruangan untuk berbagai tujuan yang berkaitan dengan pemetaan dan perencanaan.

Dari defenisi-definisi tersebut diatas dapat diambil kesimpulan bahwa SIG terdiri atas beberapa subsistem yaitu: data input, data output, data management, data manipulasi dan analysis (Prahasta, 2005).

Komponen Sistem Informasi Geografi

  1. Perangkat keras. Perangkat keras yang sering digunakan antara adalah Digitizer, scanner,Central Procesing Unit (CPU), mouse , printer, plotter
  2. Perangkat lunak (Arc View, Idrisi, ARC/INFO,ILWIS, MapInfo dan lain lain). Data dan informasi geografi Data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara meng import-nya dari perangkat-perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara menjitasi data spasial dari peta dan memasukan data atributnya dari table-tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard

Pengguna (user), Teknologi GIS tidaklah bermanfaat tanpa manusia yang mengelola sistem dan membangun perencanaan yang dapat diaplikasikan sesuai kondisi nyata Suatu proyek SIG akan berhasil jika di manage dengan baik dan dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keakhlian yang tepat pada semua tingkatan.

Fungsi SIG

Adapun fungsi -fungsi dasar dalam SIG adalah sebagai berikut :

  1. Akuisisi data dan proses awal meliputi: digitasi, editing, pembangunan topologi, konversi format data, pemberian atribut dll.
  2. Pengelolaan database meliputi : pengarsipan data, permodelan bertingkat, pemodelan jaringan pencarian atribut dll.
  3. Pengukuran keruangan dan analisis meliputi : operasi pengukuran, analisis daerah penyanggga, overlay, dll.
  4. Penayangan grafis dan visualisasai meliputi : transformasi skala, generalisasi, peta topografi, peta statistic, tampilan perspektif.

Aplikasi dan Pemanfaatan SIG

Sistem Informasi Geografis dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dalam mendapatkan data-data yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk digital. Sistem ini merelasikan data spasial (lokasi geografis) dengan data non spasial, sehingga para penggunanya dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan berbagai cara. SIG merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, table, atau dalam bentuk konvensional lainya yang akhirnya akan mempercepat pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan (Barus dan Wiradisastra, 2000 dalam As Syakur 2007).

Sistem Informasi Geografis sebagai suatu sistem yang berbasis komputer dan memiliki kemampuan dalam menangani data bereferensi geografis, yaitu penyimpanan data, manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan kembali), manipulasi dan analisis data, serta keluaran sebagai hasil akhir (output). Hasil akhirnya dapat dijadikan acuan untuk pengambilan keputusan. SIG bisa menjadi alat yang sangat penting pada pengambilan keputusan untuk pembangunan berkelanjutan. Karena SIG memberikan informasi pada pengambil keputusan untuk analiss dan penerapan database keruangan.

 

Daftar Pustaka :

Charter, Denny. 2003. Desain dan Aplikasi GIS, Geographic Information System. Jakarta, Gramedia.

Edy Prahasta, 2005. Sistem Informasi Geografis, Edisi Revisi, Cetakan Kedua. Bandung. C.V.Informatika.

Kusumadewi, Sri. 2009. Informasi Kesehatan. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Robert G Murdick, dkk, Sistem Informasi Untuk Manajemen Modern, Jakarta : Erlangga, 1991.

Sabarguna, Boy. 2005. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit. Bandung: Amanah.

Sabarguna, Boy. 2007. Master Plan System Informasi Kesehatan. KONSORSIUM Rumah Sakit Islam Jateng-DIY, Yogyakarta.

Shofari, Bambang. 2005. Pengelolaan Sistem Rekam Medik. Semarang: Perhimpunan Organisasi Profesional Perekammedikan, Informastika Kesehatan Indonesia.

Shortliffe, H. Edward. Medikal informatics : computer applications in helath care. Springer

Trihono. 2005. Arrimes Manajemen Puskesmas. CV Sagung Seto, Jakarta.

http//www. Media diknas.go.id.

http///www.GIS.com.

http//www. pu.go.id.

Standar Informasi Kesehatan

Materi:

1. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis Kemenkes

2. Standar Pelayanan Minimal

__________________________________________________________

I.   Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis Kemenkes

Visi, misi dan tujuan pembangunan kesehatan terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) 2005-2025. Adapun sasaran strategis Kemenkes yang berlaku saat ini merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah bidang Kesehatan (RPJM-K) ke-dua (2010-2014) yang disusun setiap 5 tahun sekali.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) adalah rencana pembangunan nasional di bidang kesehatan, yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, dalam bentuk dasar, visi, misi, arah dan kebutuhan sumber daya pembangunan nasional di bidang kesehatan untuk masa 20 tahun ke depan, yang mencakup kurun waktu sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran dari dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu untuk: 1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; 2) memajukan kesejahteraan umum; 3) mencerdaskan kehidupan bangsa; dan 4) ikut menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

A.  Visi

Keadaan masyarakat Indonesia di masa depan atau visi yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan dirumuskan sebagai: “Indonesia Sehat 2025”. Dalam Indonesia Sehat 2025, lingkungan strategis pembangunan kesehatan yang diharapkan adalah lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat jasmani, rohani maupun sosial, yaitu lingkungan yang bebas dari kerawanan sosial budaya dan polusi, tersedianya air minum dan sarana sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki solidaritas sosial dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.

Perilaku masyarakat yang diharapkan dalam Indonesia Sehat 2025 adalah perilaku yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan; mencegah risiko terjadinya penyakit; melindungi diri dari ancaman penyakit dan masalah kesehatan lainnya; sadar hukum; serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat, termasuk menyelenggarakan masyarakat sehat dan aman (safe community).

Dalam Indonesia Sehat 2025 diharapkan masyarakat memiliki kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu dan juga memperoleh jaminan kesehatan, yaitu masyarakat mendapatkan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatannya. Pelayanan kesehatan bermutu yang dimaksud adalah pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kesehatan dalam keadaan darurat dan bencana, pelayanan kesehatan yang memenuhi kebutuhan masyarakat serta diselenggarakan sesuai dengan standar dan etika profesi.

Diharapkan dengan terwujudnya lingkungan dan perilaku hidup sehat, serta meningkatnya kemampuan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu, maka akan dapat dicapai derajat kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang setinggi-tingginya.

B.  Misi

Dengan berlandaskan pada dasar Pembangunan Kesehatan, dan untuk mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2025, ditetapkan 4 (empat) misi Pembangunan Kesehatan, yaitu:

1. Menggerakkan Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan

Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi pula oleh hasil kerja serta kontribusi positif berbagai sektor pembangunan lainnya. Untuk optimalisasi hasil kerja serta kontribusi positif tersebut, harus dapat diupayakan masuknya wawasan kesehatan sebagai asas pokok program pembangunan nasional. Kesehatan sebagai salah satu unsur dari kesejahteraan rakyat juga mengandung arti terlindunginya dan terlepasnya masyarakat dari segala macam gangguan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

Untuk dapat terlaksananya pembangunan nasional yang berkontribusi positif terhadap kesehatan seperti dimaksud di atas, maka seluruh unsur atau subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional berperan sebagai penggerak utama pembangunan nasional berwawasan kesehatan.

2. Mendorong Kemandirian Masyarakat untuk Hidup Sehat

Kesadaran, kemauan dan kemampuan setiap individu, keluarga dan masyarakat untuk menjaga kesehatan, memilih, dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan. Penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat meliputi: a) penggerakan masyarakat; masyarakat paling bawah mempunyai peluang yang sebesar-besarnya untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan kesehatan, b) organisasi kemasyarakatan; diupayakan agar peran organisasi masyarakat lokal makin berfungsi dalam pembangunan kesehatan, c) advokasi; masyarakat memperjuangkan kepentingannya di bidang kesehatan, d) kemitraan; dalam pemberdayaan masyarakat penting untuk meningkatkan kemitraan dan partisipasi lintas sektor, swasta, dunia usaha dan pemangku kepentingan, e) sumberdaya; diperlukan sumberdaya memadai seperti SDM, sistem informasi dan dana.

3. Memelihara dan Meningkatkan Upaya Kesehatan yang Bermutu, Merata, dan Terjangkau

Pembangunan kesehatan diselenggarakan guna menjamin tersedianya upaya kesehatan, baik upaya kesehatan masyarakat maupun upaya kesehatan perorangan yang bermutu, merata, dan terjangkau oleh masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pengutamaan pada upaya pencegahan (preventif), dan peningkatan kesehatan (promotif) bagi segenap warga negara Indonesia, tanpa mengabaikan upaya penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan, diperlukan pula upaya peningkatan lingkungan yang sehat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan kemitraan antara pemerintah, dan masyarakat termasuk swasta.

Untuk masa mendatang, apabila sistem jaminan kesehatan sosial telah berkembang, penyelenggaraan upaya kesehatan perorangan primer akan diserahkan kepada masyarakat dan swasta dengan menerapkan konsep dokter keluarga. Di daerah yang sangat terpencil, masih diperlukan upaya kesehatan perorangan oleh Puskesmas.

4. Meningkatkan dan Mendayagunakan Sumber Daya Kesehatan

Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, sumber daya kesehatan perlu ditingkatkan dan didayagunakan, yang meliputi sumber daya manusia kesehatan, pembiayaan kesehatan, serta sediaan farmasi dan alat kesehatan. Sumber daya kesehatan meliputi pula penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan/kedokteran, serta data dan informasi yang makin penting peranannya. Tenaga kesehatan yang bermutu harus tersedia secara mencukupi, terdistribusi secara adil, serta termanfaat-kan secara berhasil-guna dan berdaya-guna.

Pembiayaan kesehatan yang bersumber dari masyarakat, swasta, dan pemerintah harus tersedia dalam jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil, dan termanfaatkan secara berhasil-guna serta berdaya-guna. Jaminan kesehatan yang diselenggarakan secara nasional dengan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas, bertujuan untuk menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Sediaan farmasi, alat kesehatan yang aman, bermutu, dan bermanfaat harus tersedia secara merata serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, makanan dan minuman yang aman, bermutu serta dengan pengawasan yang baik. Upaya dalam meningkatkan ketersediaan tersebut, dilakukan dengan upaya peningkatan manajemen, pengembangan serta penggunaan teknologi di bidang sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan minuman. bebas dari kerawanan sosial budaya dan polusi, tersedianya air minum dan sarana sanitasi lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan, serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang memiliki solidaritas sosial dengan memelihara nilai-nilai budaya bangsa.

C.      Tujuan dan Sasaran

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah meningkatnya kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud, melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Sasaran pembangunan kesehatan yang akan dicapai pada tahun 2025 adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat, yang ditunjukkan oleh indikator dampak yaitu:

  1. Meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH) dari 69 tahun pada tahun 2005 menjadi 73,7 tahun pada tahun 2025.
  2. Menurunnya Angka Kematian Bayi dari 32,3 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2005 menjadi 15,5 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2025.
  3. Menurunnya Angka Kematian Ibu dari 262 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005 menjadi 74 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2025.
  4. Menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita dari 26% pada tahun 2005 menjadi 9,5% pada tahun 2025.

D.     Upaya Pokok Pembangunan Kesehatan

1. RPJM-K ke-1 (2005-2009)

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan.

2. RPJM-K ke-2 (2010-2014)

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas telah lebih berkembang dan meningkat.

3. RPJM-K ke-3 (2015-2019)

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas telah mulai mantap.

4. RPJM-K ke-4 (2020-2025)

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas telah mantap.

E.      Rencana Strategis Kesehatan 2010 – 2014

Rencana  Strategis Kesehatan adalah Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 (RENSTRA Kesehatan) yang merupakan acuan bagi kementerian kesehatan dalam menyelenggarakan Program Pembangunan Kesehatan, yang juga merupakan acuan bagi penyelenggara pembangunan kesehatan pada Dinas Kesehatan Propinsi  dan Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota, termasuk seluruh pejabatnya baik struktural maupun fungsional, bahkan lebih luas lagi semua stakeholder dalam pembangunan kesehatan.

RENSTRA Kesehatan ini adalah Standar Nasional (berlaku Umum secara Nasional), pada semua Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten harus menjabarkan kembali Rencana Strategis Kementerian Kesehatan ini menjadi Rencana Strategis Dinas Kesehatan Propinsi dan kemudian dijabrakan kembali menjadi  Rencana Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten maupun kota, yang disesuaikan atau diturunkan  sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi setempatnya.

RENSTRA ini merupakan penjabaran dari sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU no.25 th.2004). Renstra Kementerian Kesehatan merupakan dokumen perencanaan yang bersifat indikatif dan memuat berbagai program pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan langsung oleh Kementerian Kesehatan untuk kurun waktu tahun 2010-2014, dengan penekanan pada pencapaian sasaran Prioritas Nasional, Standar Pelayanan Minimal (SPM), dan Millenium Development Goals (MDG’s). Masalah kesehatan begitu berat, kompleks dan tak terduga perlu perhatian pada dinamika kependudukan, epidemiologi penyakit, ekologi dan lingkungan, kemajuan iptek, kemitraan,  globalisasi dan demokratisasi, kerja sama lintas sektoral dan mendorong partisipasi masyarakat. Pembangunan kesehatan diarahkan guna mewujudkan Visi Kementerian Kesehatan.

Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan selama tahun 2010-2014

Pertama ; menguraikan arah kebijakan dan strategi nasional, dan Kedua : menguraikan  arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan dengan program-program, secara garis besarnya terdiri dari dua program yaitu program generik dan program tehnis.

Program generik meliputi :

  1. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya
  2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur kementerian kesehatan
  3. Program peningkatan pengawasan dan akuntabilitas  aparatur kementerian  kesehatan
  4. Progran penelitian dan pengembangan kesehatan

Program teknis  meliputi :

  1. Program bina gizi dan kesehatan ibu dan anak
  2. Program Pembinaan upaya kesehatan
  3. Program Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
  4. Program kefarmasian dan alat kesehatan
  5. Program pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan.

Visi Kementerian Kesehatan sekaligus juga sebagai visi pembangunan kesehatan  selama 5 tahun kedepan (2010-2014) adalah “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan”. Visi ini merupakan operasionalisasi dari pengertian kesehatan, sebagaimana yang terdapat dalam UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, yaitu kesehatan  adalah keadaan sehat fisik, jasmani (mental) dan spritual serta sosial, yang memungkinkan setiap induvidu  dapat hidup secara produktif secara sosial dan ekonomis.

Misi: untuk mencapai visi Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan ditempuh melalui misi sebagai berikut:

1.      Pertama : Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.
2.      Kedua : Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.
3.      Ketiga : Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan.
4.      Keempat : Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik.

Sementara itu tujuannya (tujuan kementerian kesehatan) termasuk  juga tujuan dari pembangunan kesehatan yaitu: terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil-guna dan berdaya-guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Guna mewujudkan visi dan misi rencana strategis pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan menganut dan menjunjung tinggi nilai-nilai yaitu:

  1. Pertama : PRO RAKYAT. Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan selalu mendahulukan kepentingan rakyat dan haruslah menghasilkan yang terbaik untuk rakyat. Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi.
  2. Kedua : INKLUSIF. Semua program pembangunan kesehatan harus melibatkan semua pihak, karena pembangunan kesehatan tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan saja. Dengan demikian, seluruh komponen masyarakat harus berpartisipasi aktif, yang meliputi lintas sektor, organisasi profesi, organisasi masyarakat pengusaha, masyarakat madani dan masyarakat akar rumput.
  3. Ketiga : RESPONSIF. Program kesehatan haruslah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan rakyat, serta tanggap dalam mengatasi permasalahan di daerah, situasi kondisi setempat, social budaya dan kondisi geografis. Faktor-faktor ini menjadi dasar dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang berbeda-beda, sehingga diperlukan penanganan yang berbeda pula.
  4. Keempat : EFEKTIF. Program kesehatan harus mencapai hasil yang signifikan sesuai target yang telah ditetapkan, dan bersifat efisien.
  5. Kelima : BERSIH. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), transparan, dan akuntabel.

Sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan tahun 2010- 2014,  dibuat sebanyak 8 strategis yaitu:

  • Pertama : Meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat, dengan :
  1. Meningkatnya umur harapan hidup dari 70,7 tahun menjadi 72 tahun;
  2. Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup; 
  3. Menurunnya angka kematian bayi dari 34 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup;
  4. Menurunnya angka kematian neonatal dari 19 menjadi 15 per 1.000 kelahiran hidup;
  5. Menurunnya prevalensi anak balita yang pendek (stunting) dari 36,8 persen menjadi kurang dari 32 persen;
  6. Persentase ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (cakupan PN) sebesar 90%;
  7. Persentase Puskesmas rawat inap yang mampu PONED sebesar 100%;
  8. Persentase RS Kab/Kota yang melaksanakan PONEK sebesar 100%;
  9. Cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN lengkap) sebesar 90%.
  • Kedua : Menurunnya angka kesakitan akibat penyakit menular, dengan:
  1. Menurunnya prevalensi Tuberculosis dari 235 menjadi 224 per 100.000 penduduk;
  2. Menurunnya kasus malaria (Annual Paracite Index-API) dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk;
  3. Terkendalinya prevalensi HIV pada populasi dewasa dari 0,2 menjadi dibawah 0,5%;
  4. Meningkatnya cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan dari 80% menjadi 90%;
  5. Persentase Desa yang mencapai UCI dari 80% menjadi100%;
  6. Angka kesakitan DBD dari 55 menjadi 51 per 100.000 penduduk.

Perlu ingatkan target-target indikatif  pada tingkat kabupaten /kota dengan konstanta 100.000 sebaiknya tidak langsung digunakan tetapi dikonversi dulu ke dalam nilai absolutnya, misalnya saja sering terjadi perdebatan angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, harus dikonversikan dengan jumlah kelahiran hidup absolut yang ada dalam kabupaten tertentu.

  • Ketiga : Menurunnya disparitas status kesehatan dan status gizi antar wilayah dan antar tingkat sosial ekonomi serta gender, dengan menurunnya disparitas separuh dari tahun 2009.
  • Keempat : Meningkatnya penyediaan anggaran publik untuk kesehatan dalam rangka mengurangi risiko finansial akibat gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, terutama penduduk miskin.
  • Kelima : Meningkatnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat rumah tangga dari 50 persen menjadi 70 persen.
  • Keenam : Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan strategis di Daerah Tertinggal, Terpencil, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK).
  • Ketujuh : Seluruh provinsi melaksanakan program pengendalian penyakit tidak menular.
  • Kedelapan : Seluruh Kabupaten/Kota melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

 

II. Standar Pelayanan Minimal

Secara ringkas PP No.65 Tahun 2005 memberikan rujukan bahwa Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga Negara secara minimal, terutama yang berkaitan dengan pelayanan dasar, baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/Kota.

Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan selanjutnya disebut SPM Kesehatan adalah tolok ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Daerah Kabupaten/Kota. Proses penyusunan SPM Bidang Kesehatan sampai ditetapkannya Permenkes Nomor 741/MENKES/PER/VI/2008 tanggal 29 Juli 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/ Kota telah melalui suatu rangkaian kegiatan yang panjang dengan melibatkan berbagai pihak, yaitu:

  1. Unit Utama terkait di Depkes, UPT Pusat, dan UPT Daerah.
  2. Lintas sektor terkait (Departemen Dalam Negeri, Badan Perencanaan Nasional, Departemen Keuangan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara)
  3. Dinas Kesehatan Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Rumah Sakit Daerah Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan Puskesmas
  4. ADINKES dan ARSADA
  5. Lintas sektor terkait di daerah (Gubernur, Bupati, Walikota, DPRD Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Pemda Provinsi/ Kabupaten/ Kota, Bappeda Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan Dinas terkait lainnya di Provinsi/ Kabupaten/ Kota)
  6. Organisasi profesi kesehatan di tingkat Pusat/Provinsi/ Kabupaten/ Kota
  7. Para pakar Perguruan Tinggi .
  8. Para Expert/ Donor Agency.
  9. Para konsultan Luar Negeri dan Konsultan Domestik.
  10. WHO, World Bank, ADB, USAID, AusAID, GTZ, HSP dll

Dalam penerapannya SPM kesehatan harus menjamin akses masyarakat untuk mendapatkan  pelayanan  dasar  dari  Pemerintah  Daerah  sesuai  dengan ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh Pemerintah. Oleh karena itu, baik dalam perencanaan maupun penganggaran, wajib diperhatikan prinsip-prinsip SPM kesehatan yaitu  sederhana,  konkrit,  mudah  diukur,  terbuka,  terjangkau  dan  dapat dipertanggungjawabkan  serta mempunyai  batas  pencapaian  yang  dapat diselenggarakan secara bertahap. Kementerian Kesehatan telah sepakat menambahkan kriteria SPM kesehatan yaitu :

  1. Merupakan pelayanan yang langsung dirasakan masyarakat, sehingga hal-hal  yang  berkaitan  dengan  manajemen  dianggap  sebagai  faktor pendukung    dalam    melaksanakan    urusan    wajib (perencanaan, pembiayaan,  pengorganisasian,  perizinan,sumberdaya,  sistem  dsb), tidak dimasukkan dalam SPM (kecuali critical support function).
  2. Merupakan prioritas tinggi bagi Pemerintah Daerah karena melindungi hak-hak konstitusional perorangan dan masyarakat, untuk melindungi kepentingan nasional dan memenuhi komitmen nasional dan global serta merupakan penyebab utama kematian/kesakitan.
  3. Berorientasi pada output yang langsung dirasakan masyarakat.
  4. Dilaksanakan secara terus menerus (sustainable), terukur (measurable) dan dapat dikerjakan (feasible).

Dalam pelaksanaan SPM kesehatan untuk jangka waktu tertentu ditetapkan target  pelayanan   yang   akan   dicapai (minimum  service   target),   yang merupakan spesifikasi peningkatan kinerja pelayanan yang harus dicapai dengan  tetap  berpedoman  pada  standar  teknis  yang  ditetapkan  guna mencapai status kesehatan yang diharapkan. Dalam Urusan Wajib dan SPM, nilai   indikator   yang   dicantumkan   merupakan   nilai   minimal   nasional sebagaimana komitmen global dan komitmen nasional. Indikator SPM kesehatan berdasar Permenkes Nomor 741/MENKES/PER/VII/2008 adalah:

  1. Cakupan kunjungan ibu hamil K4
  2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
  3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.
  4. Cakupan pelayanan nifas
  5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani
  6. Cakupan kunjungan bayi
  7. Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
  8. Cakupan pelayanan anak balita
  9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin
  10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan
  11. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat
  12. Cakupan peserta KB aktif
  13. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit

a. Acute Flaccid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk <15 tahun
b. Penemuan penderita Pneumonia balita

c. Penemuan pasien baru TB BTA positif
d. Penderita DBD yang ditangani
e. Penemuan penderita Diare

14. Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin

15. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin

16. Cakupan Pelayanan Gawat Darurat level 1 yang harus diberikan Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) di Kabupaten/Kota

17. Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <24 jam

18. Cakupan Desa Siaga Aktif

SPM  mempunyai  peranan  yang  penting  dalam  penyelenggaraan pemerintahan daerah, baik bagi pemerintah daerah sebagai perangkat yang memberikan pelayanan kepada masyarakat maupun bagi masyarakat yang mendapatkan pelayanan. Bagi pemerintah daerah, SPM  dapat dijadikan sebagai   tolok   ukur   dalam   penentuan   biaya   yang   diperlukan   untuk menyediakan  pelayanan  yang  diperlukan  oleh  masyarakat,  SPM  akan menjadi   acuan   untuk   menilai   kualitas   suatu   pelayanan   publik   yang disediakan oleh pemerintah daerah. SPM kesehatan dapat  digunakan  untuk menentukan  tolok  ukur  kinerja pelayanan   kesehatan   yang   diselenggarakan   daerah   dalam   rangka pertanggungjawaban Perangkat Daerah untuk mencapai visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan bidang kesehatan.

 

Referensi :

Depkes RI. 2009. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005 – 2025. Jakarta: Depkes RI. http://www.depkes.go.id.

Kementrian Kesehatan RI. 2010. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010 – 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id.

Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depkes RI. 2008. Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten atau Kota, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008.

Biro Hukum dan Organisasi Setjen Depkes RI. 2008. Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten atau Kota, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/Menkes/SK/IX/2008.